JURNAL REFLEKSI MODUL 3.2

Model 3 : Six Thinking Hats

 (Tekhnik 6 Topi : Process, Facts, Feeling, Creativity, Benefits, Cautions)

Oleh : Kurnia Kujum, S.Pd

CGP Angkatan 6
SDN Pamanukan 1
Kab. Subang


             Pada modul  ini, saya, calon Guru Penggerak Angkatan 6 Kabupaten Subang, telah belajar banyak hal, baik tentang sisi  ilmu dan pengetahuan mengenai seputar kekuatan atau aset sekolah yang bisa dijadikan modal dalam mencapai visi sekolah, maupun yang termasuk sisi pengalaman yang menambah pemahaman saya  dalam topik aset sekolah.

Ø                      Pertama, Sekolah sebagai sebuah ekosistem.

Sebagai sebuah ekosistem, sekolah adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik (unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang serasi, selaras dan harmonis. 

Dalam ekosistem sekolah, faktor-faktor biotik akan saling memengaruhi dan membutuhkan keterlibatan aktif satu sama lainnya dalam mendorong terwujudnya visi sekolah secara maksimal, jika dikelola secara bijak cerdas, terutama dalam menunjang pembelajaran yang berpihak pada murid. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah: 

Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua, komite sekolah dan Masyarakat sekitar sekolah. Selain faktor-faktor biotik yang sudah disebutkan, faktor-faktor abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran di antaranya adalah: Keuangan, Sarana dan prasarana.

              Kedua, Pendekatan dalam menghadapi setiap persoalan dalam sekolah.

Ada dua pendekatan yang kami pelajari yaitu pendekatan berbasis pada kekurangan/masalah/hambatan dan pendekatan berbasis aset/kekuatan. Pada pendekatan berbasis kekurangan, teori yang dapat kami simpulkan yaitu, ketika dihadapkan pada sebuah persoalan, seseorang akan melihat sebuah persoalan dengan paradigma berpikir yang pesimis, yang dilihat dalam masalah itu adalah kekurangan, kelemahan yang bisa berdampak kurang berhasilnya sebuah program.  

Akibat paradigma berpikir seperti ini, maka orang tersebut tidak akan melihat sebuah kekuatan positif, bahkan hal positif yang sebenarnya bisa jadi peluang malah tidak tampak karena dia hanya akan berpikir sebuah kesulitan yang akan dihadapi. Baik berangkat dari situasi dan kondisi maupun dari pengalaman sebelumnya.

Sedangkan pendekatan berbasis kekuatan merupakan kebalikan dari pendekatan berbasis kekurangan. Guru atau seseorang dalam menghadapi sebuah permasalahan, akan selalu berpikir positif dan optimis, sehingga setiap kekurangangan yang ada bukan menjadi sebuah masalah, tetapi yang dilihat adalah  sisi positif, nilai lebih yang menjadi aset/kekuatan yang bisa dijadikan faktor pendukung yang mampu mensukseskan berjalannya sebuah acara. 

     Dari paradigma positif tersebut, maka akan terbuka  peluang-peluang untuk mewujudkan tujuan dan harapan. Dan pendekatan aset ini digunakan sebagai dasar paradigma inquiri apresiatif. Seorang guru sebagai agen of change, pemimpin perubahan, sudah selayaknya menggunakan pendekatan ini melalui inquiri apresitif tahapan BAGJA untuk memulai melakukan transformasi pendidikan.

Ø                          Ketiga, Aset-aset atau modal utama.

Ada tujuh aset yang dapat dijadikan salah satu alat membantu menemukenali sumber daya yang menjadi aset sekolah yaitu modal manusia (kepala sekolah,guru, murid, komite, masyarakat sekitar, dan tenaga kependidikan), modal sosial (norma/aturan yang mengikat, kepercayaan, komunitas. 

 

Modal politik (aktifitas dekmokrasi, SDM yang dapat mempengaruhi kebijakan), modal agama dan budaya (kegiatanritual keagamaa, kebudayaan), modal fisik (ruang kelas, lab, ruang pertemuan, musolla, toliet, saluran pembuangan/air, alat transportasi, jalur komunikasi/transportasi, dll). Modal lingkungan/alam (potensi alam sekolah yang belum di olah, udara yang bersih, laut, taman, danau, sungai, tumbuhan, hewan, dll) dan yang terakhir modal finansial (keuangan, pengetahuan bagaimana menghasilkan uang)

 

Dengan materi ini, saya jadi tahu bahwa aset sekolah bisa dijadikan modal utama dalam mencapai sebuah visi sekolah dengan sukses. Bagaimana kita bijak dan trampil dalam mengelola aset sekolah dan memanfaatkan sebaik-baiknya secara bijak untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid, untuk membantu siswa menemukan kemerdekaan belajarnya, untuk menanamkan karakter mulia dan budi pekerti luhur ada siswa.

 

Hal lain yang tak kalah menarik, bahwa aset ternyata tak hanya yang bagian dari sekolah yang berwujud, tapi juga yang tak berwujud, aset tak hanya yang ada dalam lingkungan sekolah atau terintegrasi dengan sekolah, tapi lingkungan alam, masyarakat, agama dan budaya, politik juga termasuk dalam 7 aset sebagaimana kerangka pemikiran dari Green dan Haines (dalam modul 3.2 PGP, 2022).

Bahagia rasanya bisa mengenal dan mempelajari materi ini, Sebab materi  Ini sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan saya sebagai guru yang berperan sebagai pemimpin pembelajaran.

Dengan materi ini, saya mengetahui bahwa aset sekolah bisa dijadikan modal utama dalam mencapai sebuah visi sekolah dengan sukses. Sehingga ke depan  kita akan bijak dan terampil dalam mengelola aset sekolah dan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung pembelajaran yang berpihak pada murid, seperti  membantu siswa menemukan kemerdekaan belajarnya, dan menanamkan karakter mulia dan budi pekerti luhur pada siswa. Sungguh luar biasa ilmu baru ini,  menarik, dan telah  membuka wawasan saya sebagai seorang guru yang berperan menjadi pemimpin pembelajaran dan agen perubahan, dan hal  ini menjadi modal untuk menjadi pemimpin dalam pengolahan sumber daya. Kemampuan dalam memimpin  pengolahan sumber daya yang menjadi aset sekolah sangat penting bagi seorang pemimpin dalam upaya mewujudkan visi sekolah, dan mewujudkan pendidikan yang berpihak dan murid. 

         Dan Hal ini bisa dimulai  dari mengidentifikasi kemudian mengklasifikasi aset-aset sekolah, maka kita akan dengan mudak menentukan, bagaimana aset-aset tersebut agar bisa dimanfaatkan, dikembangkan secara maksimal untuk kebutuhan dan kepentingan belajar siswa.  Dalam setiap perubahan, pasti ada kendala dan hambatan. Hambatan dan kendala yang kami hadapi dalam memanfaatkan sumber daya sekolah adalah:

Ø  Pertama, kurangnya kesadaran warga sekolah untuk memaksimalkan potensi-potensi yang ada, sehingga potensi itu kurang dapat dirasakan manfaatnya, kurang dimanfaatkan secara maksimal.

Ø  Kedua, kolaborasi yang masih kurang antar sesama komponen biotik dalam sekolah. Ketika kolaborasi kurang maksimal, maka apa yang menjadi tujuan dari kebermanfaatan aset sekolah tersebut kurang maksimal, bahkan ada aset-aset sekolah yang tidak dimanfaatkan untuk mendukung proses pembelajaran yang berpihak pada murid.

Ø  Ketiga minimnya pengetahuan dan ketrampilan serta keterbatasan waktu dalam menggunakan dan memanfaatkan aset sekolah tersebut, misalnya dalam pengolahan sarana dan prasarana pembelajaran seperti lab, alat-alat peraga.

Berangkat dari identifikasi dan klasifikasi aset sekolah, hambatan-hambatan yang kami hadapi, dan manfaat besar yang bisa kami dapatkan dari aset-aset tersebut, kita harus memaksimalkan pemanfaatan, penggunaan aset aset tersebut, melalui perintah atasan, bimbingan, dan kesadaran. Agar aset-aset tersebut bisa berguna, bisa digunakan dalam mendukung keberhasilan proses pembelajaran yang berpihak pada murid dan memerdekakan murid.

Pada akhirnya satu hal yang dapat saya simpulkan, sekolah sebagai sebuah ekosistem tentu memiliki aset-aset yang bisa jadi kekuatan tersendiri bagi sekolah tersebut, dan aset itu dapat menjadi modal utama dan kekuatan sekolah.

 

 

 

Komentar